22 November 2017

Rina Nose Melepas Hijab, Saya Kasihan



Menanggapi postingan Rina Nose mengenai Jepang banyak dari netizen geram tidak setuju dan bahkan hingga Ustadz Abdul Somad (UAS) pun merasa perlu menasehati dengan cara sinis. Kalau saya pribadi merasa kasihan, menurut saya keputusan Rina terbilang premature, ia hanya melihat informasi dari sisi Islam yang ada di dirinya sesuai pemahamannya dan melihat dari sisi luar Islam yang baru ia dapatkan. Rina tidak melibatkan yang lebih ahli selain dirinya untuk menyelesaikan apa yang menjadi kebingungannya. Ini hanya tafsir sepihak dari saya bisa benar bisa keliru.

Saya merasa kasihan karena, ia perempuan, saya perempuan biasanya kita 'perasaan' gitu. Kalau beragam ke'geram'an diberikan dalam bentuk yang agak sakit, walaupun misalnya saya tahu saya salah, tapi tetep saja saya juga sakit hati, dan nggak memecahkan masalah. Mungkin kalau ada teman atau keluarga yang mau terus-menerus menasehati tanpa menyerah bicara dari hati ke hati dan menyertakan orang yang lebih ahli untuk menjawab pertanyaan Rina, biar 'batu' juga mungkin ia bisa paham dengan benar akhirnya.

Ya biasanya si gitu, saya ini gendut, kadang merasa nggak masalah orang panggil saya 'ndut' tapi di situasi tertentu kadang saya merasa masalah, kalau ada orang panggil saya 'ndut'. Di saat lagi sensitif panggilan itu jadi terasa hina'an yang luar biasa. Mungkin begitu juga dengan pesek. Tapi disini saya tidak menyudutkan UAS, saya sangat menghormati UAS dengan segala karakter dan ilmunya yang luas. Semoga Allah selalu merahmatinya. Aamiin.

Semua orang punya caranya masing-masing, saya paham, saya menghargai. Spread Love
Dan saya juga sama dengan sebagian besar pendapat lain, saya tidak setuju dengan pemikiran Rina tentang atheis di Jepang. Mereka indah dengan perilakunya walaupun tidak beragama, tapi Islam lebih indah dari itu. Rina baru lihat perilaku atheis/kafir yang baik walaupun tidak beragama, tapi coba jangan lihat Islam dari yang dipandang hari ini oleh Rina, coba temukan lagi dan bagikan juga kepada kita, umat muslim yang perilakunya baik dan tetap menjalankan syariat Islam, aku yakin mereka jauuh lebih indah.

Rina diberikan rezeki oleh Allah bisa melihat banyak hal dan mengunjungi banyak tempat, kalau misal terlalu lelah mencari, kenapa nggak dimulai dengan Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya. Saya yakin kalau Rina coba mempelajari bagaimana Nabi SAW hidup, yah seperti itulah seharusnya muslim hidup. Itu jauuuh lebih indah dibandingkan bagaimana orang dari sisi luar Islam hidup.

Keyakinan karena yakin saja, benar berbeda dengan keyakinan karena tahu, itu pernyataan Rina, menurut saya benar, bisa diterima. Tapi Rina juga harus tahu seberapa tahukah Rina. Kita harus tahu posisi diri kita dimana, dan kita juga harus tahu posisi Allah SWT. Beda kalau Rina sudah tidak yakin dengan Allah SWT, kalau masih yakin, pastinya tahu posisi Allah SWT. Ia adalah Dzat yang tidak ada keraguan, tidak pernah ingkar dan selalu menepati janji-Nya. Jadi, kalau Allah SWT sudah memerintahkan itu adalah yang terbaik buat kita. Hijab adalah perintah Allah SWT. Manfaatnya bukan untuk Allah SWT, nggak ada kerugian buat Allah, kalau kita nggak melakukan perintahNya. Allah tetap Maha Besar. Tetap Dzat yang paling mulia.

Kalau ini perintah Allah SWT. Berarti, kalau kita laksanakan ada fadhilahnya (manfaatnya) kita bisa cari tahu apa saja, buat jadi motivasi mengumpulkan pahala biar masuk surga, yah kan? Kalau kita ingkar atau tidak melaksanakan apa yang menjadi perintahNya, maka ada hukuman-Nya, ini juga bisa dicari tahu apa saja, tentunya membuat kita dalam kerugian yang sangat besar. Hijab itu wajib bukan sunnah, kalau sunnah nggak apa-apa ditinggalkan, tidak menjadikan dosa. Karena wajib, jadi dosa kalau ditinggalkan, yah kan? Saya mah yakin Rina sudah tahu.

Semua manusia berproses, saya juga berproses, ada manusia yang teratur prosesnya, ada yang berantakan kayak saya, kadang saya iri juga lihat proses manusia yang teratur, saya mah berantakan. Tapi alhamdulillah masih berproses menjadi lebih baik, saya berproses tapi saya tidak meninggalkan. Artinya mungkin masih hilang arah sesaat, tapi balik lagi. Saya berharap Rina juga seperti itu.

Dulu saya punya genk waktu sekolah, saya doang yang pakai kerudung, yang lain belum. Saya tidak bisa berbicara sesuatu apapun, saya hanya berdoa, saya lemah iman, iyah bener, saya cuma berdoa dalam diam buat genk saya waktu itu. Kadang mereka suka ngomong sama saya, "Ki nggak apa-apa kan yah, nanti gue pakai kerudung kalau hati udah siap." Saya cuma diam tidak berikan jawaban, dalam hati saya menjawab. Nggak, nggak boleh begitu, dan saya do'akan.

Dan akhirnya mereka semua menemukan skenario hidupnya sendiri bagaimana mereka berhijab. Saya nggak bilang itu dari do'a saya, pasti ada do'a dari dirinya dan keluarganya. Saya hanya supporter, tetap saja mereka pemain utamanya. Mereka punya porsi lebih besar dalam menentukan hidupnya. Do'a saya kepada mereka bukan hanya untuk mereka tapi buat saya sendiri juga. Agak curang sih, akhirnya saya tahu, kalau berdo'a untuk kebaikan orang lain, ada dua malaikat yang juga berdo'a untuk kebaikan yang sama untuk kita. Bayangin yang do'ain malaikat kapan lagi, yah kan?

Untuk Rina Nose, saya juga akan menjadi 'supporternya'. Berdo'a untuknya, semoga Allah SWT kembalikan hidayah itu. Allah berikan petunjuk-Nya, kasih sayang dan rahmat-Nya. Aamiin
Intinya sih, saya bukan jadi supporter yang membenarkan tindakannya, tapi supporter yang berharap Rina menyadari bahwa tindakannya saat ini sangat keliru. Saya juga berharap kejadian ini tidak mempengaruhi hijrahnya orang lain.

Dan semoga tidak ada yang berpikir "Tidak apa-apa tidak berhijab yang penting berakhlak baik" Ini kekeliruan yang sangat fatal. Akhlak utama harusnya kepada Allah SWT. Allah yang berkuasa atas tubuh kita ini, setiap incinya, Allah juga yang memberikan rezekiNya, Allah yang mengatur seluruh alam dan isinya, seluruh langit dan isinya. Allah yang Maha Besar Kuasanya. Tapi masih memberikan kesempatan kepada kita manusia yang kecil ini untuk kembali pada-Nya.

Padahal orangtua saja bisa murka kalau anaknya tidak mengindahkan perintahnya. Apalagi Allah yang memiliki segalanya, harusnya Dia sudah murka dengan segala dosa yang kita perbuat, kita bagaikan manusia yang tidak tahu diri, semuanya dikasih, tapi masih saja ingkar.

Tapi Allah. Dia Maha Pengasih. Kasih-Nya begitu luas, Rahmat-Nya begitu luas. Dia tetap menunggu kita kembali kepada-Nya dalam taat. Mudah bagi Allah mematikan fungsi organ penting ditubuh kita, kalau Dia murka kita bisa lenyap dalam sekejap. Tapi Allah masih menunggu kita kembali di jalan-Nya dan taat kepada-Nya. Dia selalu bilang kepada malaikat, sebentar lagi, sebentar lagi, lihat saja umatKu akan kembali padaKu. Mungkin setahun, 10 tahun, 20 tahun, 50 tahun, atau sebelum azal datang Allah masih menunggu. Sebesar apapun dosa, ketika kita kembali beristigfar pada-Nya. Dia akan bilang kepada malaikat, lihat malaikat umatKu kembali padaKu.
Astagfirullahal adzim wa 'atubuh ilaih.

...
...
...

Nb :
Saya biasa hanya mendengar, itu kebiasaan saya, mendengar ustadz/ulama berceramah merekam dalam ingatan. Harusnya mencari dalil lebih dalam. Saya hanya manusia biasa yang masih belajar. Jika mungkin ada yang keliru mengenai yang disampaikan, terutama mengenai dalil yang tidak disertakan, silakan komentar untuk bisa jadi ilmu dan memperbaiki catatan saya. Jazakumullah khair

No comments:

Post a Comment

Featured post

Ayas Lagi di Kantor

Disudut kantor Ayas menghela nafas, menaruh tangan diatas kepala dan bertumpu dikepala. Menghela nafas lagi sembari melihat kesekeliling...