22 November 2017

My True Story : Hijab Story



Ini kisah saya, mana kisahmu?

Saya pakai hijab ketika kelas 3 SD. Saya sekolah di SD Negeri jadi tidak ada kewajiban memakai kerudung. Waktu itu, saya hanya ikut-ikutan sahabat saya, saya pikir, kan kita sahabat jadi harus sama'an. Pure itu alasan saya, anak-anak banget kan?

Tapi saya kadang pakai, kadang tidak. Nah, suatu waktu ibu saya potong rambut saya pendek sekali, seperti anak laki-laki, saya malu, akhirnya selama disekolah saya pakai kerudung terus tidak pernah lepas. Ada teman saya yang lain juga begitu, karena ia kepalanya luka harus dibotakin, jadi ia pakai kerudung juga setiap hari disekolah (kalau dia mungkin dirumah juga, kalau saya dirumah tidak pakai). Kalau saya keluar rumah yang agak jauh dari rumah, misal nemenin ibu ke supermarket, beberapa kali ketemu sama teman sekolah dimana saya nggak pakai kerudung, nggak tahu kenapa, saya merasa maluu banget. Seiring berjalannya waktu, rambut saya panjang, rambut teman saya yang luka dikepalanya juga panjang, nah disini bedanya, dia melepas kerudungnya, dan saya juga mau, tapi nggak sanggup. (saya ngerasa malu saja, maluu banget kalau harus buka kerudung)

Akhirnya SMP, SMK saya pakai kerudung terus ketika sekolah atau pergi yang jauh dari rumah. Kalau masih seputar rumah, main sama tetangga, ke warung, dll, saya masih belum berkerudung. Di posisi itu, saya belum tahu kalau hijab wajib, saya cuma tahu, sholat harus, puasa harus, zakat harus, haji bila mampu :) Atau mungkin saya tahu sekelibatan, tapi nggak mudeng.

Ketika kelas 2 SMK saya dipanggil BP karena sering telat, karena rumah saya di Tangerang sekolahnya di Blok M, Jaksel. Akhirnya saya harus kos sekitar sekolahan. Kos bukan di kos-kosan, tapi ada satu keluarga yang kamarnya kosong, lalu disewakan ke saya, saya jadi bagian dari keluarga itu, ada keponakan dari pemilik rumah yang baru lulus kuliah namanya Mba Sri, dia tinggal di sebelah kamar saya. Saya lumayan dekat dengan mba Sri dan semua keluarga itu.

Suatu waktu saya pulang sekolah agak siang, naik ke atas (karena kamar saya di atas), tiba-tiba belum sampai ke lantai atas, mba Sri agak sedikit berteriak, "Siapa itu? Mas Nadzim (saya lupa namanya sebut saja itu) ya? Jangan masuk dulu". Saya jawab, "ini Kiki mba". Mba Sri langsung keluar dan merasa lega, ia mengira aku mas Nadzim (sepupunya). Ia menghela nafas dan sambil lanjut menyapu, ia bilang, ia tidak pakai kerudung jadi khawatir kalau itu laki-laki. Sampai di posisi itupun saya masih belum tahu, saya cuma berpikir, emang harus ya kayak gitu?

Tapi entah bagaimana perasaan saya setelah itu, saya jadi kepikiran terus. Apa memang seperti itu, dan lainnya. Tapi saya akhirnya mencoba, saya benar-benar menutup aurat sejak kelas 2 SMK, mau dirumah atau dimana pun kalau misal ada laki-laki selain adik saya, saya pasti langsung kabur ambil kerudung. Setelah lumayan lama melakukan itu, saya jadi bisa merasakan apa yang mbak Sri rasakan, ketika tiba-tiba dirumah misal temen adik saya main masuk saja, saya bisa rasakan rasa khawatir karena pas dia masuk saya sedang tidak berkerudung.

Awal saya memutuskan full menutup aurat karena terinspirasi oleh mbak Sri itu, walaupun saya belum tahu pasti banget, finally Allah kasih saya petunjuk buat lebih meyakinkan saya. Saya diterima magang di salah satu Departemen Pemerintah, karena saya pakai kerudung, saya ditempatkan di posisi kepegawaian, kata bagian administrasi umum, disana kerudungan semua, awalnya saya merasa sedih karena saya sendirian, tapi kelamaan saya ngerasaa berkah ditempat itu, saya punya meja sendiri, saya dikasih buku disuruh baca, pekerjaannya sedikit, dan lebih banyak baca buku dan nonton saja, karena diruangan itu ada TV, buku-buku yang diberi kepada saya, kebanyakan buku agama, salah satunya membahas hijab. Nah, dari situ saya yakin karena tahu. Disitu saya tahu hijab itu wajib beserta dalilnya, lalu saya tahu pakaian tidak boleh membentuk tubuh, tidak boleh pacaran, tidak boleh bersentuhan dengan lawan jenis yang bukan mahromnya, dll.

Setelah itu seperti dicicil oleh Allah satu per satu mengenai menutup aurat. Allah lebih tahu kalau saya bebel, jadi pelan-pelan. Alhamdulillah.

Jujur sampai sekarang lebih sering action dulu baru tahu kemudian, saya ingat kata ustad Felix Siaw, perkara yang kita tahu wajib, paksakan saja dulu, nanti Allah beri taufik-Nya kemudian. Nanti Allah beri tahu ilmu-Nya, rasa nikmat-Nya, manis-Nya iman dan taat kepada Allah.

...
...
...

Nb :
Saya biasa hanya mendengar, itu kebiasaan saya, mendengar ustadz/ulama berceramah merekam dalam ingatan. Harusnya mencari dalil lebih dalam. Saya hanya manusia biasa yang masih belajar. Jika mungkin ada yang keliru mengenai yang disampaikan, terutama mengenai dalil yang tidak disertakan, silakan komentar untuk bisa jadi ilmu dan memperbaiki catatan saya. Jazakumullah khair

Rina Nose Melepas Hijab, Saya Kasihan



Menanggapi postingan Rina Nose mengenai Jepang banyak dari netizen geram tidak setuju dan bahkan hingga Ustadz Abdul Somad (UAS) pun merasa perlu menasehati dengan cara sinis. Kalau saya pribadi merasa kasihan, menurut saya keputusan Rina terbilang premature, ia hanya melihat informasi dari sisi Islam yang ada di dirinya sesuai pemahamannya dan melihat dari sisi luar Islam yang baru ia dapatkan. Rina tidak melibatkan yang lebih ahli selain dirinya untuk menyelesaikan apa yang menjadi kebingungannya. Ini hanya tafsir sepihak dari saya bisa benar bisa keliru.

Saya merasa kasihan karena, ia perempuan, saya perempuan biasanya kita 'perasaan' gitu. Kalau beragam ke'geram'an diberikan dalam bentuk yang agak sakit, walaupun misalnya saya tahu saya salah, tapi tetep saja saya juga sakit hati, dan nggak memecahkan masalah. Mungkin kalau ada teman atau keluarga yang mau terus-menerus menasehati tanpa menyerah bicara dari hati ke hati dan menyertakan orang yang lebih ahli untuk menjawab pertanyaan Rina, biar 'batu' juga mungkin ia bisa paham dengan benar akhirnya.

Ya biasanya si gitu, saya ini gendut, kadang merasa nggak masalah orang panggil saya 'ndut' tapi di situasi tertentu kadang saya merasa masalah, kalau ada orang panggil saya 'ndut'. Di saat lagi sensitif panggilan itu jadi terasa hina'an yang luar biasa. Mungkin begitu juga dengan pesek. Tapi disini saya tidak menyudutkan UAS, saya sangat menghormati UAS dengan segala karakter dan ilmunya yang luas. Semoga Allah selalu merahmatinya. Aamiin.

Semua orang punya caranya masing-masing, saya paham, saya menghargai. Spread Love
Dan saya juga sama dengan sebagian besar pendapat lain, saya tidak setuju dengan pemikiran Rina tentang atheis di Jepang. Mereka indah dengan perilakunya walaupun tidak beragama, tapi Islam lebih indah dari itu. Rina baru lihat perilaku atheis/kafir yang baik walaupun tidak beragama, tapi coba jangan lihat Islam dari yang dipandang hari ini oleh Rina, coba temukan lagi dan bagikan juga kepada kita, umat muslim yang perilakunya baik dan tetap menjalankan syariat Islam, aku yakin mereka jauuh lebih indah.

Rina diberikan rezeki oleh Allah bisa melihat banyak hal dan mengunjungi banyak tempat, kalau misal terlalu lelah mencari, kenapa nggak dimulai dengan Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya. Saya yakin kalau Rina coba mempelajari bagaimana Nabi SAW hidup, yah seperti itulah seharusnya muslim hidup. Itu jauuuh lebih indah dibandingkan bagaimana orang dari sisi luar Islam hidup.

Keyakinan karena yakin saja, benar berbeda dengan keyakinan karena tahu, itu pernyataan Rina, menurut saya benar, bisa diterima. Tapi Rina juga harus tahu seberapa tahukah Rina. Kita harus tahu posisi diri kita dimana, dan kita juga harus tahu posisi Allah SWT. Beda kalau Rina sudah tidak yakin dengan Allah SWT, kalau masih yakin, pastinya tahu posisi Allah SWT. Ia adalah Dzat yang tidak ada keraguan, tidak pernah ingkar dan selalu menepati janji-Nya. Jadi, kalau Allah SWT sudah memerintahkan itu adalah yang terbaik buat kita. Hijab adalah perintah Allah SWT. Manfaatnya bukan untuk Allah SWT, nggak ada kerugian buat Allah, kalau kita nggak melakukan perintahNya. Allah tetap Maha Besar. Tetap Dzat yang paling mulia.

Kalau ini perintah Allah SWT. Berarti, kalau kita laksanakan ada fadhilahnya (manfaatnya) kita bisa cari tahu apa saja, buat jadi motivasi mengumpulkan pahala biar masuk surga, yah kan? Kalau kita ingkar atau tidak melaksanakan apa yang menjadi perintahNya, maka ada hukuman-Nya, ini juga bisa dicari tahu apa saja, tentunya membuat kita dalam kerugian yang sangat besar. Hijab itu wajib bukan sunnah, kalau sunnah nggak apa-apa ditinggalkan, tidak menjadikan dosa. Karena wajib, jadi dosa kalau ditinggalkan, yah kan? Saya mah yakin Rina sudah tahu.

Semua manusia berproses, saya juga berproses, ada manusia yang teratur prosesnya, ada yang berantakan kayak saya, kadang saya iri juga lihat proses manusia yang teratur, saya mah berantakan. Tapi alhamdulillah masih berproses menjadi lebih baik, saya berproses tapi saya tidak meninggalkan. Artinya mungkin masih hilang arah sesaat, tapi balik lagi. Saya berharap Rina juga seperti itu.

Dulu saya punya genk waktu sekolah, saya doang yang pakai kerudung, yang lain belum. Saya tidak bisa berbicara sesuatu apapun, saya hanya berdoa, saya lemah iman, iyah bener, saya cuma berdoa dalam diam buat genk saya waktu itu. Kadang mereka suka ngomong sama saya, "Ki nggak apa-apa kan yah, nanti gue pakai kerudung kalau hati udah siap." Saya cuma diam tidak berikan jawaban, dalam hati saya menjawab. Nggak, nggak boleh begitu, dan saya do'akan.

Dan akhirnya mereka semua menemukan skenario hidupnya sendiri bagaimana mereka berhijab. Saya nggak bilang itu dari do'a saya, pasti ada do'a dari dirinya dan keluarganya. Saya hanya supporter, tetap saja mereka pemain utamanya. Mereka punya porsi lebih besar dalam menentukan hidupnya. Do'a saya kepada mereka bukan hanya untuk mereka tapi buat saya sendiri juga. Agak curang sih, akhirnya saya tahu, kalau berdo'a untuk kebaikan orang lain, ada dua malaikat yang juga berdo'a untuk kebaikan yang sama untuk kita. Bayangin yang do'ain malaikat kapan lagi, yah kan?

Untuk Rina Nose, saya juga akan menjadi 'supporternya'. Berdo'a untuknya, semoga Allah SWT kembalikan hidayah itu. Allah berikan petunjuk-Nya, kasih sayang dan rahmat-Nya. Aamiin
Intinya sih, saya bukan jadi supporter yang membenarkan tindakannya, tapi supporter yang berharap Rina menyadari bahwa tindakannya saat ini sangat keliru. Saya juga berharap kejadian ini tidak mempengaruhi hijrahnya orang lain.

Dan semoga tidak ada yang berpikir "Tidak apa-apa tidak berhijab yang penting berakhlak baik" Ini kekeliruan yang sangat fatal. Akhlak utama harusnya kepada Allah SWT. Allah yang berkuasa atas tubuh kita ini, setiap incinya, Allah juga yang memberikan rezekiNya, Allah yang mengatur seluruh alam dan isinya, seluruh langit dan isinya. Allah yang Maha Besar Kuasanya. Tapi masih memberikan kesempatan kepada kita manusia yang kecil ini untuk kembali pada-Nya.

Padahal orangtua saja bisa murka kalau anaknya tidak mengindahkan perintahnya. Apalagi Allah yang memiliki segalanya, harusnya Dia sudah murka dengan segala dosa yang kita perbuat, kita bagaikan manusia yang tidak tahu diri, semuanya dikasih, tapi masih saja ingkar.

Tapi Allah. Dia Maha Pengasih. Kasih-Nya begitu luas, Rahmat-Nya begitu luas. Dia tetap menunggu kita kembali kepada-Nya dalam taat. Mudah bagi Allah mematikan fungsi organ penting ditubuh kita, kalau Dia murka kita bisa lenyap dalam sekejap. Tapi Allah masih menunggu kita kembali di jalan-Nya dan taat kepada-Nya. Dia selalu bilang kepada malaikat, sebentar lagi, sebentar lagi, lihat saja umatKu akan kembali padaKu. Mungkin setahun, 10 tahun, 20 tahun, 50 tahun, atau sebelum azal datang Allah masih menunggu. Sebesar apapun dosa, ketika kita kembali beristigfar pada-Nya. Dia akan bilang kepada malaikat, lihat malaikat umatKu kembali padaKu.
Astagfirullahal adzim wa 'atubuh ilaih.

...
...
...

Nb :
Saya biasa hanya mendengar, itu kebiasaan saya, mendengar ustadz/ulama berceramah merekam dalam ingatan. Harusnya mencari dalil lebih dalam. Saya hanya manusia biasa yang masih belajar. Jika mungkin ada yang keliru mengenai yang disampaikan, terutama mengenai dalil yang tidak disertakan, silakan komentar untuk bisa jadi ilmu dan memperbaiki catatan saya. Jazakumullah khair

19 November 2017

Perubahan Peraturan Kirim Barang Keluar Batam



Di Pagi yang mendung ini, saya coba cek lagi resi pengiriman tas cantik ke customer saya. Pengiriman dari Batam ke Kraton, Yogyakarta. Daan, lagi lagi posisi masih sama, masih di Nagoya, Batam. Estimasi harusnya sudah sampai sejak tanggal 16 Nov '17 tapi hingga hari ini tanggal 19 Nov '17 belum juga sampai, saya ketar ketir ngerii dapet feedback negatif dari customer. Lalu saya cek email karena kemarin saya sudah coba hubungi pihak expedisi via email, siapa tahu sudah dibalas, pikir saya.

Daan lagi lagi, belum direspon, akhirnya dengan pulsa tersisa saya coba hubungi call center, alhamdulillah dijawab dan diinformasikan karena ada masalah bea dan cukai di daerah Batam, makanya setiap barang keluar Batam masih di pending, katanya ada peraturan baru bea dan cukai pemerintahan kota Batam.

Akhirnya saya coba berselancar di si 'mbah' google, dan ketemulah informasi ini. Menghela nafas rasanya sesak banget. Ada-ada ajah pikir saya. Apalah daya saya reseller online, penjual barang online, bahkan yang seharusnya uang sudah masuk malah kepending karena barang belum juga diterima customer. Sedih iyaa. Banget..

Aku sayang Indonesia hiks.. Pelipur lara saja, semakin sesak jadi penjual online yang tak punya modal ini. Semoga badai ini cepat berlalu ya. Semoga saja customer saya tidak kasih feedback negatif. Aamiin

03 November 2017

Review Drama Korea Signal (2016)


Awalnya sedang browsing drama tentang detective, nggak tahu kenapa lebih suka nonton thriller, crime, atau seputar detective. Semakin ditonton semakin ngerasa dunia ini menyeramkan, banyak orang yang kita pikir tampak normal dari luar, baik-baik saja, tetapi ternyata memiliki jiwa psikopat. Alur cerita signal ini, agak sedikit berbeda, diluar duga'an, dan ada hal lain yang lebih ditonjolkan tentang pantang menyerahnya detective untuk mengungkap kebenaran, mungkin lebih tepatnya ngototnya seorang detective dengan keyakinan yang luar biasa, berani melawan bahkan atasannya sendiri.

Cerita ini dimulai dari kekecewaan seorang adik (Park Hae Young) yang mendapati kakaknya (Park Sun Woo) harus dituduh melakukan pemerkosaan dan akhirnya bunuh diri, dia tidak percaya tuduhan yang ditujukan kepada kakaknya, ia tahu kakaknya bukan orang yang seperti itu, kekecewaan bertambah ketika ia mengetahui bahwa tuduhan terhadap kakaknya sudah diatur oleh polisi, polisi sudah mengatur semuanya untuk menutupi kasus ini, dan mengkambing hitamkan Sun Woo. Hae Young yang mengetahui hal itu, benci sekali dengan polisi tetapi ketidakadilan yang didapat kakaknya membuatnya justru menjadi profiller di organisasi kepolisian.

Park Hae Young

Kasus pertama yang ditangani Hae Young adalah kasus penculikkan terhadap temannya sendiri (Yoo Jung), penculikkan terjadi pada 15 tahun silam, ia melihat siaran TV bahwa polisi mengumumkan seorang tersangka penculikkan adalah Pria. Ia menyaksikan dengan matanya sendiri bahwa yang menculik Yoo Jung bukan pria, yang membawa Yoo Jung adalah wanita. Hae Young yang kala itu masih kecil berusaha memberitahu pihak kepolisian tapi tidak ada yang percaya. Hingga akhirnya 15 tahun berlalu, saat ia menjadi polisi dan tidak sengaja terhubung dengan Detective Lee Jae Han lewat Wakkie-Talkie.

Detective Lee Jae Han yang berada di tahun 2000 memanggil Letnan Park Hae Young yang berada di tahun 2015 melalui Wakkie-Talkie. Detective Lee Jae Han memberi informasi pada Hae Young, bahwa ia menemukan tersangka penculikkan Yoo Jung ditemukan mati dibunuh di belakang sebuah RS. Jiwa. Hae Young yang bingung awalnya, mencoba memeriksa kebenarannya, karena pada tahun 2015 dimana ia berada tersangka penculikkan itu belum ditemukan. Berdasarkan informasi tersebut, Hae Young berhasil mengungkapkan tersangka sebenarnya yang membunuh dan menculik Yoo Jung 15 tahun yang lalu.

Park Hae Young - Detective Lee Jae Han

Setelah keberhasilannya mengungkap fakta penculikkan itu, Hae Young ditugaskan menjadi profiller di TIM Kasus Kejahatan Berat dan bertemu dengan Detective Cha Soo Hyun (Ketua TIM), yang notabene adalah junior dari Detective Lee Jae Han pada masa lampau. Hae Young tetap berhubungan dengan Detective Lee Jae Han di masa lampau lewat Wakkie-Talkie dan berhasil mengungkap banyak kasus, yang akhirnya menggiring mereka pada kasus Pemerkosaan Injoo. Kasus pemerkosaan yang mengkambinghitamkan kakaknya. Ternyata ada fakta lain dibalik kasus itu, fakta yang dikubur agar tidak tercium, fakta terkait kejahatan yang lebih besar. Apakah itu? Tonton yaa...

Drama signal lumayan menguras air mata, kadang ngeri melihat kekejaman pelaku kejahatan dan sedih banget melihat keluarga korban yang hancur hidupnya karena pembunuhan atau sakit banget melihat satu keluarga hancur karena ketidak-adilan hukum saat itu. Banyak pesan yang disampaikan dari drama ini, antara lain :
  • Pelaku psikopat bisa siapa saja, tidak harus yang kelihatan kriminal atau kasar. Psikopat sangat mungkin adalah orang yang ramah, terlihat sangat manis, dan biasa saja seperti orang yang baik.
  • Ketidak-adilan pada beberapa kasus, dapat menghancurkan satu keluarga dan berdampak pada sosial juga.
  • Bobroknya sistem hukum karena uang, bukan hanya menghancurkan masa depan korban dan keluarganya. Tetapi membebaskan pelaku kejahatan yang sebenarnya untuk melakukan kejahatan lagi tanpa rasa bersalah.
  • Para petinggi hukum, penguasa, orang kaya yang bisa seenaknya bebas dengan perilaku biadab, mereka melakukan pembunuhan, perkosaan, menganiaya, tetapi bisa bebas dengan uang.
  • Alhamdulillah ditengah kepedihan akan ketidak-adilan hukum, masih ada, masih banyak (aamiin) yang pantang menyerah mengungkap fakta kebenaran dengan berani begitu ngotot akan kebenaran.
  • Ketiadaan perilaku bermasyarakat dalam lingkungan dapat membentuk seorang psikopat, kita harus lebih banyak peduli terhadap tetangga, saling berkabar, jadi bisa tahu kalau ada keluarga yang bermasalah, masyarakat bisa menjadi pelindung, baik untuk anak-anak atau keluarga yang bermasalah, sehingga tidak terbentuk perilaku menyimpang yang menjadi pencetus terbentuknya jiwa psikopat.
  • Agama merupakan hal yang paling penting, banyak orang depresi akan kehidupan dunia ini. Tentang ketidak-adilan, tentang keluarga yang bermasalah, pasangan bermasalah atau apapun. Tapi kalau pondasi agama kuat pada sebuah lingkungan, Insya Allah akan melindungi siapapun dari hal buruk. Banyak kasus bunuh diri menandakan ketiadaan agama. Meskipun saya pernah dengar tentang penyakit bunuh diri. Tapi menurut saya pribadi, pondasi agama adalah yang terpenting. 
Tonton ya, ambil hikmah dan sisi baiknya saja... 


Featured post

Ayas Lagi di Kantor

Disudut kantor Ayas menghela nafas, menaruh tangan diatas kepala dan bertumpu dikepala. Menghela nafas lagi sembari melihat kesekeliling...